Skip to content
-
DERAP JUANG. Membangun Kebanggaan, Solidaritas dan Disiplin Partai
Derap Juang Derap Juang Derap Juang

Membangun Kebanggaan, Solidaritas dan Disiplin Partai

Derap Juang Derap Juang Derap Juang

Membangun Kebanggaan, Solidaritas dan Disiplin Partai

  • Home
  • Terkini
  • Derap Utama
  • Bung Karno
  • Galeri
    • Video 33 Detik
    • Kolase
    • Foto Pilihan
  • Olah Raga & Teknologi
    • Olahraga
    • Teknologi Terkini
  • Home
  • Terkini
  • Derap Utama
  • Bung Karno
  • Galeri
    • Video 33 Detik
    • Kolase
    • Foto Pilihan
  • Olah Raga & Teknologi
    • Olahraga
    • Teknologi Terkini
Close

Search

Berita TerkiniFeaturedHUT 48 PDI Perjuangan

Mengalirkan Nilai Pancasila Melalui Konsep Kepemimpinan Jawa Sebagai Upaya Membangun Indonesia Emas Tahun 2045

By C Ayu YA
10 May 2021 3 Min Read
Comments Off on Mengalirkan Nilai Pancasila Melalui Konsep Kepemimpinan Jawa Sebagai Upaya Membangun Indonesia Emas Tahun 2045

Pancasila merupakan valuable investment yang diwariskan para pendiri bangsa sebagai lentera bagi dunia pada umumnya dan bagi bangsa indonesia pada khususnya. Amanat tersebut termaktub dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 1945 bahwa dalam membangun suatu bangsa kita bersandar kepada asas pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial, yang dari keseluruhan asas itu mengarahkan pada pembentukan sistem yang melindungi seluruh bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bagsa dan melaksanakan ketertiban dunia. Butir-butir pengamalan nilai pancasila ini telah termaktub dalam Tap Nomor I/MPR/2003 yang kemudian dijadikan sebagai pedoman dalam berkehidupan bermasayarakat dan juga bernegara.

Dalam perkembangannya, pancasila merupakan nilai riil yang bersumber dari nilai-nilai luhur yang ada pada masyarakat. Sehingga, Pancasila memiliki marwah pada setiap lini kehidupan. Salah satu marwah penting Pancasila mengalir melaui konsep-konsep kepimpinan yang berlandaskan kearifan lokal bangsa. Tokoh taman siswa, Bapak pendidikan, Ki Hadjar Dewantara mengemukakan Trilogi kepemimpinan dengan ungkapan istilah jawa yang juga mencermikan konsep hasthabrata yang menurut Kartono (1998) dan Suradinata (1997) bahwa hal tersebut menjadi pedoman bagi pemimpin dalam melakukan pengontrolan dan penjagaan terhadap perilakunya dalam berkehidupan. Trilogi konsep tersebut kita kenal dengan ungkapan Ing Ngarso Sung Tlodho, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani (Marliani & Djadjuli, 2019). Dalam praktiknya, Trilogi kepemimpinan ini menghendaki terwujudnya nilai-nilai pancasila yang luhur.

Ing Ngarso Sung Tlodho

 Ki Suratman (1990) mengemukakan bahwa Ing Ngarso Sulng Tlodho di definiskan sebagai sikap pemimpin untuk bisa tampil sebagai contoh dan suri tauladan di hadapan orang-orang yang dipimpinnya (Septiyani T, 2015). Sikap ini tidak terbatas hanya pada seperti apa yang ditampakkan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Tetapi melibatkan proses penilaian dan pengamatan masyarakat tentang sejauh mana pemimpin mereka telah menjadi self object yang baik bagi mereka. Ing ngarsa sung tlodho terrepresentasi pada beberapa poin dalam hasthabrata, yakni bintang (sudama) dan api (dahana). Bintang sebagai representasi jiwa pemimpin yang memiliki pendirian yang teguh, dan dapat menjadi panutan bagi rakyatnya dan api sebagai representasi jiwa kepemimpinan yang berwibawa (Sutardjo I, 2014). Dalam konsep ini, mengalir nilai sila kelima, yang mengembangkan sebuah perbuatan luhur yang menunjukkan sikap yang adil dan mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban seorang pemimpin.

Ing Madya Mangun Karsa

Secara definitif, konsep ini berarti di tengah sebagai penyemangat.  Dalam lini ini, peran seorang pemimpin adalah memposisikan dirinya sebagai orang yang mampu memotivasi, menggerakkan, menumbuhkan semangat, dan juga mampu menyelami apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Dalam kaitannya dengan hasthabrata, model ini mencakup tiga karakteristik yaitu matahari (surya), air (tirta), dan bulan (candra). Matahari merepresentasikan sikap sebagai pencerah dan motivator dalam memacu semangat rakyat. Bulan dan air sebagai representasi dari sikap damai, tentram, dan berbelas kasih kepada sesama (Sutardjo, 2014). Melalui konsep ini, mengalir nilai sila pertama tentang ketuhanan yang menjunjung tinggi toleransi keberagaman, sila kedua yang menjunjung tinggi nilai kemanusian, dan sila ketiga mengdepankan persatuan dalam menjaga ketertiban dan perdamanaian dunia.

Tut Wuri Handayani

Secara definitif, konsep ini berarti pemimpin berada di belakang untuk  mendorong, memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mengaktualisasikan diridalam mencapai kebutuhan-kebutuhannya. Tut wuri handayani didefinisikan oleh John Maxwell (2006) sebagai seorang yang menjaga kursi pada strata kepemipinan bagian bawah. Karena menurut Maxwell bahwa masyarakat itu tidak peduli seberapa banyak hal yang kita ketahui sampai mereka betul-betul tahu bahwa kita sangat memperhatikan mereka. Karena seorang pemimpin tak akan melahirkan sebuah kemajuan dan perubahan tanpa adanya kepedulian kepada negara dan bangsanya (Muaddab, 2018). Melalui konsep ini, terpatri jiwa hasthabrata yang terrepresentasi pada tanah (pratala) dan angin (maruta). Tanah merepresentasikan jiwa yang kepemimpinan yang senantiasa suka menolong dan ikhlas dalam berbuat baik kepada sesama dan angin sebagai refleksi jiwa pemimpin yang merakyat (Sutardjo, 2014). Melalui konsep ini, mengalir nilai sila keempat melalui sikap kepemimpinan yang merakyat, yang memberikan kesempatan kepada masayarakatnya untuk terlibat dan mengaktualisasikan diri. Keseluruhan konsep pancasila mengalir dan terangkum dalam ketiga konsep tersebut yang kemudian terefleksi dalam penjabaran nilai-nilai hasthabrata sebagai perwujudan sosok kepemimpinan yang ideal.

Jadi, Trilogi kepemimpinan jawa yang terrepresentasi dalam poin-poin hasthbrata yang kemudian mengalir di dalamnya nilai-nilai pancasila menjadi konsep kepemimpinan yang ideal. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia di masa depan yang membutuhkan sebuah sistem kekuasaan pemerintahan dengan tipe pemimpin yang ideal di mata masyarakatnya dan juga mampu menyatukan perbedaan yang ada. Tak dapat dipungkiri, bias-bias sisa politik gaya lama tentu masih menghiasi perpolitikan di Indonesia. Nilai-nilai pancasila yang mengalir dalam konsep kepemimpinan jawa ini diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalah yang muncul.

Penulis: Rivaldo Noval Putra Santosa

Tags:

HUT PDI PerjuanganLomba Karya Esai
Author

C Ayu YA

Follow Me
Other Articles
Previous

Trilogi Falsafah Jawa Tengah Sebagai Spirit Membangun Indonesia

Next

Bergerak Untuk Indonesia Maju

Membangun Kebanggaan, Solidaritas dan Disiplin Partai

Derap Juang merupakan Media Internal Resmi Partai berbentuk majalah online dan portal berita yang dikelola oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Tengah.

  • Instagram
  • TikTok

Derap Juang

Panti Marhaen (Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Tengah)
Jalan Brigjen Katamso No. 24, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, JAWA TENGAH

Email: redaksi@derapjuang.id

Copyright 2026 — Derap Juang. All rights reserved.