Trilogi Falsafah Jawa Tengah Sebagai Spirit Membangun Indonesia

0

Indonesia adalah negara multikultur yang sarat akan nilai-nilai budaya. Indonesia memiliki beragam suku dan daera, dimana setiap suku dan daerah tersebut memiliki nilai-nilai sosio-kultural atau falsafah yang khas sebagai identitas lokal yang sarat akan nilai-nilai kearifan hidup. Falsafah-falsafah local tersebut pada hakikatnya merupakan sari pati dari Pancasila yang mengejawantah sebagai pribadi dan budaya bangsa.

Dalam tahap yang kompleks, nilai-nilai falsafah lokal memiliki peran  penting dalam membentuk karakter khususnya dalam lingkup internal (daerah) yang secara repetitif akan memiliki dampak bagi pembentukan karakter masyarakat Indonesia pada umumnya.

Jawa Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki  kekayaan falsafah lokal yang dapat menjadi referensi pemerintah untuk ditransplantasi sebagai spirit pembangunan nasional. Pembangunan nasional sendiri tidak hanya membangun secara material fisik tetapi juga membangun karakter sumber daya manusia. Ada trilogi falsafah khas Jawa Tengah yang sangat relevan dan compatible untuk ditransformasikan sebagai spirit pembangunan nasional.

Pertama, mangasah mingising budi. Adalah falsafah yang menghendaki  adanya sarana untuk mengasah ketajaman akal dan budi. Mengasah kecerdasan intelektual sekaligus kepekaan moral dan nurani. Aktualisasinya adalah bahwa pembangunan nasional harus diarahkan untuk memperkuat penguasan ilmu penghetahuan dan teknologi sebagai basis pembangunan intelektual, di sisi lain pembangunan nasional juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. Membangun tidak sekadar mengandung dimensi intelektual-material tetapi juga mengandung dimensi kontiniutas-alamiah.

Kedua, memasuh malaning bumi. Adalah falsafah yang menghendaki setiap manusia untuk membersihkan segala sesuatu yang mengotori kehidupan. Dalam konteks pembangunan nasional, aktualisasi dari pada falsafah memasuh malaning bumi adalah dengan membersihkan narasi-narasi kotor dan membersihkan niat dalam pembangunan nasional untuk semata-mata mensejahterakan dan mencerdaskan rakyat, tidak boleh ada niat-niat kotor oportunis yang merusaknya. Menghindari korupsi, kolusi, suap, kongkalikong, dan gratifikasi dalam proses pembangunan nasional adalah aktualisasi praksis dari pada falsafah memasuh malaning bumi. 

Baca Juga :   DPC PDI Perjuangan Kota Magelang Lakukan Koordinasi Persiapan HUT ke-48

Ketiga, memayu hayuning bawana. Adalah falsafah yang menghendaki setiap manusia agar memperindah keindahan dunia serta mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup. Dalam kosmologi masyarakat Jawa Tengah, memayu hayuning bawana mengejawantah sebagai spiritualitas budaya yang mengutamakan harmonisitas hidup. Dalam konteks pembangunan nasional, falsafah memayu hayuning bawana dapat diaktualisasikan dengan prinsip pemerataan pembangunan agar tidak tercipta kesenjangan sosial yang dapat merusak harmonisitas hidup.

Jika dielaborasi secara konstruksional, maka 3 falsafah Jawa Tengah di atas yakni mangasah minginsing budi, memasuh malaning bumi, dan memayu hayuning bawana berderivasi pada 3 nilai esensial pembangunan nasional yakni pembangunan sumberdaya manusia berbasis pembangunan berkelanjutan (mangasah minginsing budi), pembangunan kesejahteraan (memasuh malaing bumi), dan pemerataan pembangunan (memayu hayuning bawana).

Secara aktualisitas, 3 falsafah lokal Jawa Tengah ini hendaknya dapat ditransplantasi dalam spirit pembangunan daerah Jawa Tengah terlebih dahulu sebelum diintensifikasi sebagai spirit kebijakan spefisik dalam lingkup pembangunan nasional. Konsep membangun Indonesia dari Jawa Tengah harus menjadi semacam trademark agar Jawa Tengah bisa menjadi role model dalam wacana pembangunan nasional yang sarat dengan nilai berkepribadian dalam budaya.

Sebagaimana ucapan Buang Karno bahwa berkepribadian dalam budaya merupakan salah satu variabel dari Trisakti sebagai wujud kemerdekaan kultural, selain kemerdekaan sosio-politik (berdaulat secara politik) dan kemerdekaan ekonomi (berdikari secara ekonomi). Oleh karena itu, Jawa Tengah harus mampu menjadi role model atau trademark bagi daerah lain perihal pembangunan yang sarat dengan spirit berkepribadian dalam budaya.

Jawa Tengah harus menjadi leader dalam mengaktualisasikan spirit pembangunan yang kuyup dengan falsafah-falsafah lokal sebagai ekspresi kemerdekaan kultural “Berkepribadian dalam budaya”. Selanjutnya, spirit dari falsafah lokal tersebut digali secara abstraksi untuk diambil nilai esensialnya guna ditransplantasi sebagai spirit dan kebijakan pembangunan nasional baik dalam blue print Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah maupun Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang. 

Baca Juga :   DPC PDI Perjuangan Karanganyar Tanam Seribu Pohon

Trilogi falsafah Jawa Tengah yakni mangasah manginsing budi, memasuh malaning bumi, dan memayu hayuning bawana yang mengandung nilai esensial pembangunan manusia berbasis pembangunan berkelanjutan, pembangunan kesejahteraan rakyat, dan pemerataan pembangunan merupakan ekspresi nilai kultural yang sangat compatible untuk ditransplantasi sebagai spirit dan kebijakan untuk mengatasi problematika pembangunan nasional guna mewujudkan Indonesia emas 2045.

Penulis: Cetryn Tatiana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here