Relevansi Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Upacara Sedekah Bumi Waduk Cacaban sebagai Upaya Penguatan Pembangunan Bangsa di Era Globalisasi

2

Setiap negara di belahan bumi pasti memiliki peradaban, begitupun  dengan Indonesia. Salah satu bukti dari suatu peradaban ialah terciptanya sebuah kebudayaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kebudayaan ialah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, atau keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Terdapat berbagai bentuk kebudayaan yang berkembang di kalangan masyarakat, salah satunya yaitu tradisi. Tradisi merupakan kegiatan yang bersifat magis, religius dari kehidupan suatu penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma hukum, yang kemudian menjadi suatu sistem atau peraturan tradisional (Kamus Antropologi, 1985:125)

Berbicara perihal tradisi sama halnya berbicara mengenai Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki beranekaragam tradisi. Oleh sebab itu, tidak asing apabila membicarakan tentang tradisi langsung teringat dengan Indonesia. Banyak tradisi yang berkembang di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, salah satunya yaitu Tradisi Upacara Sedekah Bumi Waduk Cacaban yang terdapat di Desa Penujah, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Tradisi ini ialah tradisi tahunan yang diadakan setiap satu tahun sekali tepatnya pada bulan Sura.

Tradisi sedekah bumi waduk Cacaban merupakan tradisi turun-temurun dari leluhur Desa Penujah. Meskipun minat dari generasi muda menurun pada tradisi ini, tetapi tradisi sedekah bumi waduk Cacaban masih dilaksanakan hingga sekarang. Diadakannya sebuah tradisi terkadang dilatarbelakangi cerita masa lalu.  Begitupun dengan tradisi sedekah bumi waduk Cacaban ini. Merujuk dari penuturan pemangku adat, tradisi ini merupakan salah satu ritual yang untuk memohon perlindungan dan sebagai ungkapan rasa syukur yang ditujukan kepada Sang Pencipta. Tradisi ini bermula ketika di Desa Penujah tepatnya di waduk Cacaban sering dilanda berbagai musibah yang menelan korban jiwa.

Baca Juga :   DPC PDI Perjuangan Kota Magelang Lakukan Koordinasi Persiapan HUT ke-48

Salah satu musibah besar yang pernah terjadi di waduk Cacaban ialah terbaliknya perahu yang mengangkut ratusan penumpang. Hal ini terjadi tepatnya satu minggu setelah waduk tersebut diresmikan pada tanggal 19 Mei 1958 oleh Mr. Sartono. Hingga suatu malam sesepuh yang tinggal di dekat waduk Cacaban bermimpi ditemui salah satu makhluk penjaga waduk tersebut. Di dalam mimpinya, penjaga tersebut menyarankan untuk dilakukannya sedekahan dengan dilambangkan kepala kerbau. Akhirnya sesepuh tersebut memberitahukan kepada penduduk setempat dan semuanya setuju untuk melaksanakan sedekahan tersebut. Semua orang saling bahu-membahu mempersiapkan ubo rampe yang diperlukan guna melancarkan upacara sedekah bumi.

Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi waduk Cacaban, di antaranya yaitu nilai religius, sosial, dan budaya. Nilai-nilai tersebut tersirat dalam setiap proses dan ubo rampe sedekah bumi waduk Cacaban, seperti nilai religius yang tersirat dalam simbol kepala kerbau, ayam tulak gesang, dan tumpeng. Masing-masing simbol tersebut secara keseluruhan mengandung makna tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan kebenaran akan kekuatan Tuhan yang maha dahsyat yang mampu berbuat apapun di muka bumi sesuai dengan yang dikehendaki. Oleh karena itu para leluhur hanya bertirakat memohon agar mereka senantiasa dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Nilai selanjutnya yakni nilai sosial, nilai ini dapat dilihat dari kebersamaan masyarakat Desa Penujah saat mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk ritual. Semua orang saling tolong-menolong tanpa memandang status apapun. Nilai sosial ini sangat berkaitan dengan nilai religius, hal ini dapat dilihat dari kepercayaan masyarakat setempat tentang hukum alam, karena masyarakat percaya bahwa alam merupakan perantara kekuatan Tuhan. Masyarakat Desa  Penujah sangat percaya bahwa apa yang mereka tanam maka itulah yang mereka tuai. Oleh karena itu, masyarakat selalu ingat dengan alam dalam setiap aktivitasnya.

Baca Juga :   DPC PDI Perjuangan Karanganyar Tanam Seribu Pohon

Yang terakhir ialah nilai budaya, ketika upacara ini dilangsungkan sama halnya masyarakat setempat ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya, karena tradisi sedakah bumi waduk Cacaban merupakan bagian dari peninggalan kebudayaan. Nilai-nilai luhur tersebutlah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh para leluhur, karena nilai-nilai itu sangat penting dan berguna bagi masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi penguat jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kuatnya jati diri bangsa yang terkenal akan tata kramanya, kereligiusannya, budayanya, dan sosialnya dapat menjadikan kita tidak lupa akan siapa kita, dari mana kita berasal, di mana kita tinggal, dan apa yang harus kita perbuat. Nilai-nilai ini dapat menjadi pelindung bangsa Indonesia dalam melewati arus globalisasi yang semakin bebas tata aturannya, sehingga apa yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa dapat terlaksana meskipun harus berhadapan dengan bebasnya perkembangan peradaban dunia.

Oleh karena itu penting sekali pelestarian tradisi sedekah bumi waduk Cacaban ini. Dibutuhkan peran dari seluruh lapisan masyarakat untuk ikut memikirkan nasib dari kehidupan sebuah tradisi yang sangat luhur  ini. Menghargai kebudayaan sendiri sama halnya menghargai diri sendiri. Kita adalah bangsa yang lahir di bumi pertiwi ini, jadi sudah seharusnya kita menunjukkan jati diri sejati untuk kejayaan NKRI.

Penulis: Nur Laely Wijayanti

2 COMMENTS

  1. Setuju. Mempertahankan kebudayaan tradisional di zaman yang modern ini memang memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Hal semacam ini mestinya terus dilestarikan, karena banyak nilai-nilai kehidupan yang disampaikan pada acara semacam ini. Peran pemuda tak kalah penting karena sebagai pewaris kebudayaan tradisional khususnya.

  2. Gagasan dan narasinya ngena, mengerucut dengan mengambil salah satu contoh kebudayaan, tapi pesannya bisa digunakan secara global,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here