Samuel Wattimena Dorong Revitalisasi Pecinan Semarang Berbasis Komunitas

0
Foto: Samuel Wattimena (tengah baju biru) saat kunjungi kawasan Pecinan Kota Semarang.

Kota Semarang – Anggota DPR RI Samuel J.D. Wattimena mendesak penguatan sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis masyarakat di kawasan heritage Pecinan, Kota Semarang. Langkah ini dinilai strategis untuk mendongkrak ekonomi lokal tanpa menggusur nilai sejarah kawasan.

“Pecinan Semarang punya modal kuat: sejarah yang hidup dan kuliner tradisional yang otentik. Ini daya tarik yang tidak dimiliki semua daerah,” ujar Samuel saat mengunjungi kawasan tersebut bersama pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krabat, Hengky Hidayat Pranadya, Sabtu malam, 23 Mei 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Samuel berdialog dengan sejumlah pelaku UMKM, termasuk Oki Rinenggo, pemilik usaha Liang Tea Medan 77 yang telah bertahan selama 20 tahun di Jalan Wotgandul Timur. Para pedagang mengeluhkan perlunya konsistensi promosi dan penataan kawasan agar kunjungan wisatawan tidak musiman.

Hengky Hidayat menambahkan, menjaga keberlanjutan kawasan warisan budaya memerlukan sinergi lintas sektor. Keterlibatan aktif warga lokal dinilai menjadi kunci agar perputaran ekonomi langsung dirasakan oleh pedagang kecil, bukan modal besar semata.

Langkah Konkret Pengembangan Kawasan Pecinan
Untuk mewujudkan kawasan heritage yang mandiri secara ekonomi, berikut adalah beberapa langkah konkret yang perlu segera dieksekusi:

  • Standardisasi dan Digitalisasi UMKM: Memberikan pelatihan kemasan, higienis produk, dan digitalisasi pembayaran (QRIS) bagi pedagang kuliner tradisional tanpa menghilangkan autentisitasnya.
  • Penyusunan Calendar of Events: Membuat agenda festival budaya dan kuliner bulanan yang teratur agar arus wisatawan lokal maupun mancanegara tetap stabil.
  • Penataan Infrastruktur Berbasis Heritage: Memperbaiki sistem pencahayaan estetis (pedestrian lighting), papan informasi sejarah (storytelling signages), dan manajemen parkir tanpa merusak arsitektur asli.
  • Pembentukan Konsorsium Komunitas: Mengintegrasikan Pokdarwis, pelaku usaha, dan sejarawan lokal dalam satu forum tata kelola kawasan untuk menjamin regulasi pariwisata yang berpihak pada warga setempat.

Tim Editor.