Samuel Wattimena: Kehadiran 47 Dubes Jadi Panggung Wastra dan Diplomasi Perempuan Parlemen

0
Foto : Samuel Wattimena bersama Undangan dalam acara Forum Diskusi Nasional Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) (23/05)

JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel J.D. Wattimena, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Forum Diskusi Nasional Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI). Forum yang mengusung tema “Perempuan di Parlemen: Dari Representasi menuju Transformasi Kebijakan” ini digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, pada Kamis, 21 Mei 2026.

Menurut Samuel, forum ini bukan sekadar ruang diskusi biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat posisi dan memperluas daya tawar politik perempuan dalam merumuskan kebijakan publik. Ia menilai arah gerak dan visi KPPRI sejauh ini sudah berada di jalur yang tepat

“Kalau untuk KPPRI sendiri, ini sesuatu yang menurut saya sangat bagus. Kiprah dan visi yang dijalankan oleh para perempuan DPR RI itu sudah berjalan dengan baik,” ujar Samuel saat ditemui di sela-sela acara.

Panggung Diplomasi Internasional

Salah satu poin krusial yang disoroti legislator dari Fraksi PDI-Perjuangan ini adalah hadirnya puluhan korps diplomatik asing dalam perhelatan tersebut. Tercatat, sebanyak 47 duta besar dari berbagai negara sahabat turut menyaksikan jalannya forum.

Bagi Samuel, kehadiran para dubes ini merupakan momentum emas untuk memperkenalkan taji dan kontribusi nyata politisi perempuan Indonesia di panggung internasional.

“Tadi dihadiri sekitar 47 duta besar dari berbagai negara. Jadi, mereka bisa terinformasi secara langsung mengenai apa saja yang dilakukan oleh kaukus perempuan ini. Itu poin yang sangat penting bagi diplomasi kita,” katanya menegaskan.
Wastra Nusantara dan Penguatan UMKM
Sebagai anggota Komisi VII yang membidangi sektor industri dan UMKM, Samuel juga menaruh perhatian khusus pada disisipkannya promosi wastra nusantara dan mode lokal dalam rangkaian acara.

Pria yang juga dikenal erat dengan dunia desain ini melihat ada keterkaitan kuat antara gerakan perempuan dan kebangkitan ekonomi kreatif. Menurutnya, pilihan mode perempuan parlemen bisa menjadi stimulus konkret bagi para perajin di daerah.

“Perempuan tidak bisa dilepaskan dari mode. Jika semua perempuan (di parlemen) mampu merepresentasikan dirinya dengan berbagai wastra yang kita miliki, ini akan menjadi bentuk dukungan yang sangat besar bagi ekosistem UMKM kita,” tutur Samuel.

Menembus Sekat Partisan
Menutup perbincangan, Samuel berharap KPPRI tidak terjebak dalam ego sektoral atau rivalitas politik. Ia menekankan pentingnya wadah ini sebagai ruang kolaborasi lintas fraksi demi memperjuangkan hak-hak perempuan dan masyarakat luas.
“Harapan saya, perempuan dari semua partai politik di KPPRI bisa bergotong royong mewujudkan isu-isu strategis tadi. Semua demi kepentingan masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here