Kisah Bung Karno dan Peci Beludru Hitam Pemersatu Bangsa

0

Kota Semarang – Banyak cara untuk mengenali Bung Karno, ada yang lewat semangat revolusionernya, lantang ketika berpidato, Bapak Proklamasi, serta hal lainnya yang identik dengan Bung Karno. Peci beludru hitam menjadi ciri khas dari sosok Bung Karno, hampir seluruh penampilan Bung Karno di depan publik selalui dilengkapi oleh peci beludru hitam ini.

Pada pertemuan Jong Java tahun 1921, Bung Karno datang dengan memakai peci beludru hitam dan mendeklarasikanya sebagai penutup kepala sebagai simbol pemersatu bangsa dari semua kalangan.

“Salah satu daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian peci, kopiah beludru hitam yang menjadi tanda pengenalku, dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan kami,” kata Bung Karno dalam pertemuan Jong Java.

Bagi Bung Karno, peci beludru hitam menanggalkan identitas-identitas kesukuan dan mampu diterima rakyat banyak. Terlebih pada masa pergerakan kemerdekaan, Bung Karno menjadikan peci beludru hitam sebagai simbol perlawanan terhadap kaum imprealisme. Bung karno juga mengkritik langkah beberapa aktivis pergerakan kemerdekaan yang tidak menutup kepala sebagai bentuk perlawanan.

“Dengan tidak mengenakan tutup kepala, maka akan sulit bagi kaum pergerakan bisa melebur dengan budaya rakyat Indonesia,” ujar Bung Karno.

Lebih lanjut peci beludru hitam adalah instrumen yang bisa mengikat kaum intellijensia atau kaum cendikiawan dengan rakyat kecil.

“Aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata. Dalam pertemuan selanjutnya aku atur untuk memakai peci, pikiranku agak tenang sedikit. Hatiku berkata-kata, untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan. memang memerlukan kawan-kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik,” ujar Bung Karno.

Baca Juga :   Kedai Kopi Mewabah, MHF Gelar Pelatihan Barista

Konsistensi Bung Karno tetap terjaga dalam memakai paci beludru hitam, momen demi momen Bung Karno lewati dengan memakai peci ini. Inggit Garnasih mengenang bagaimana ia pertama kali melihat Bung Karno turun dari kereta api yang mengenakan pakaian putih-putih dan memakai peci beludru hitam. Sejarah pun mengenang bagaimana Bung Karno membacakan teks proklamasi dengan mengenakan peci ini, atau ketika Bung Karno menyampaikan pidato di sidang PBB pada tahun 1950-an dengan memakai peci beludru hitam.

Alhasil, peci beludru hitam menjadi simbol kebangsaan dan pemersatu bagi para pejuang kemerdekaan. Bung Karno mengenang hal itu dalam kalimat ini. “Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung, dengan Peciku yang memberikan pandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan,” jelas Bung Karno.

Penulis: Safii Mohamad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here