MEMBANGUN SINERGI ALA SRI

0
193
Bupati Sri Sumarni menutup Karya Bhakti TNI Mandiri di Desa Tunggulrejo. (Foto: Dok. Kodim Purwodadi)

Purwodadi dalane mblethok, oke tok…”. Dulu, pantun itu kerap dilontarkan warga Grobogan yang kesal dengan banyaknya jalan rusak alias mblethok di kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah ini. Namun cibiran itu sekarang hilang karena hampir di setiap ruas jalan kabupaten terbentang jalan beton bertulang yang mulus, kuat dan kokoh.

Jalan-jalan berubah mulus sejak kabupaten yang terletak sekitar 60 kilometer ke arah timur Kota Semarang ini dipimpin Srikandi kader PDI Perjuangan, Hj. Sri Sumarni, SH MM. Setahun dilantik jadi bupati, Ketua DPC PDI Perjuangan Grobogan ini langsung tancap gas membenahi infrastruktur yang menjadi salah satu visi misinya. Bahkan demi mendanai pembangunan jalan, di awal kepemimpinannya di Pemkab Grobogan, Sri Sumarni berani meminjam Rp200 miliar ke bank dengan cicilan selama 4 tahun, khusus untuk membangun jalan kabupaten. “Setelah saya hitung, bunga pinjaman di Bank Jateng jauh lebih murah dibanding kenaikan harga barang dan jasa terkait pembetonan jalan setiap tahunnya,” jelas Bupati yang yakin perekonomian akan tumbuh jika jalan-jalan bagus.

Hj. Sri Sumarni, SH., MM.

Perempuan yang akrab dipanggil Mbak Sri ini ingin di akhir masa jabatannya target membangun jalan sepanjang 900 km tercapai. “Minimal 80 persennya tercapai. Itu butuh dana Rp1,7 triliun,” ungkap Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto.

Untuk mengalokasikan dana sebesar itu di APBD, Bupati Sri Sumarni butuh dukungan politik dari DPRD Grobogan. Di sinilah kepiawaian Sri sebagai petugas partai yang duduk di Pilar Eksekutif diuji. Ia menggerakan pilar legislatif yakni 12 orang anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Grobogan untuk mengawal programnya. Posisinya sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan yang menjadi simbol pilar struktural partai memudahkan komunikasi dengan pilar legislatif. Untuk memperlancar hubungan dengan DPRD, Sri rajin berdiskusi informal dengan ketua DPRD Agus Siswanto yang menjabat sebagai sekretaris DPC PDI Perjuangan Grobogan. “Ketua partai adalah simbol partai. Nah, Mbak Sri yang sekarang menjadi bupati adalah juga Ketua DPC Partai. Oleh sebab itu, apa pun kami siap mengawal dan mengiringi beliau dalam memimpin Grobogan,“ kata Agus.

Jalan kabupaten yang menghubungkan Wirosari-Tegalrejo telah dibangun menggunakan konstruksi cor beton. Target membangun jalan sepanjang 900 KM. (Foto: Dheky Kenedi)

Bukan hanya jalan yang diurus Sri Sumarni untuk memajukan Kabupaten Grobogan. Ia juga membangun layanan kesehatan, pendidikan, program pemberdayaan UMKM, dan penciptaan lapangan kerja. Sasaran dari program-program itu adalah masyarakat kecil. Sebagai petugas partainya wong cilik, Sri tidak lupa untuk ngopeni kelompok Marhaen. Ia, misalnya, menggagas program pemberian santunan kepada keluarga warga Grobogan yang meninggal dunia.

Baca Juga :   Konsolidasi 3 Pilar PDI Perjuangan Kabupaten Klaten

Demi Kesejahteraan Kaum Marhaen

Program – program itu merupakan implementasi pelaksanaan tujuan partai dalam mensejahterakan kaum Marhaen, bagian terbesar dari 1,4 juta lebih penduduk Grobogan. Sri Sumarni meminta semua pilar partai, terutama pilar legislatif menyelaraskan kerja-kerja politiknya dengan tujuan partai mensejahterakan kaum Marhaen. “Apa pun bentuk kebijakannya, akan kami kawal selama dalam rel tujuan PDI Perjuangan. Lobi-lobi politik dengan fraksi dari partai lain kami maksimalkan demi mengegolkan kegiatan visi misi bupati yang bermuara pada kesejahteraan kaum marhaen,” tegas Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Grobogan Heru Santoso.

Agus Siswanto, Ketua DPRD Grobogan

Peran anggota Fraksi PDI Perjuangan dimaksimalkan untuk menyerap aspirasi masyarakat bawah,terutama kader, dalam agenda resesnya. Masukan-masukan itu kemudian dituangkan dalam pokok pikiran DPRD sebagai salah satu landasan awal penetapan APBD.

Mbak Sri juga menerima langsung pendapat warga. “Pendopo rumah dinas ini terbuka sekali bagi kader PDI Perjuangan dan masyarakat umum. Saya malah senang jika ngobrol gayeng langsung bareng sesama kader partai. Ya, sedikit banyak kan bisa tahu aspirasi keinginan mereka untuk pembangunan Grobogan,” katanya.

Bupati Sri Sumarni melibatkan Tiga Pilar Partai dalam kegiatan Pemda yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia mewajibkan anggota Fraksi PDI Perjuangan hingga pengurus anak cabang hadir menggunakan atribut partai. Contohnya saat ia mengadakan tarawih keliling di bulan Ramadan.” Saya hubungi PAC, karena di situ ada pembagian sembako dan bantuan masjid. Mereka harus pakai logo partai agar masyarakat tahu bupatinya dari PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Ketua PAC Gabus, Suparman menilai konsolidasi tiga pilar partai di Grobogan sudah berjalan baik, terbukti partainya selalu menang dalam hajatan pemilu. “Raihan di atas 70 persen dalam hampir seluruh agenda Pemilu, baik itu Pilgub, Pilpres, Pilkada, tidak bisa dipandang sebelah mata. Kami bersama seluruh unsur partai terutama ranting yang menjadi ujung tombak senantiasa memiliki kebanggaan berjibaku saat agenda Pemilu,” ungkap pria yang tinggal di Desa Wisata Banjarejo, kecamatan Gabus ini.

Baca Juga :   MINORITAS TAPI MEMIMPIN

Mulusnya konsolidasi tiga pilar partai membuat Sri Sumarni bekerja optimal memimpin Grobogan. Hasilnya, sejumlah prestasi diraihnya. Antara lain menjadikan Grobogan sebagai penghasil jagung dan kedelai terbesar di Jawa Tengah. Prestasi-prestasi itu diharapkan mempunyai dampak elektoral untuk PDI Perjuangan. Apalagi disokong kader-kader militan seperti Suparman tadi. “Saya meminta konsolidasi pengurus tingkat cabang terus digalakkan. Jadikan kandang banteng yang sudah merah ini semakin merah,” pintanya.

LAPORAN : FERRY EKO ADI PRASETYO,

DHEKY KENEDI /GROBOGAN