“Kandang Banteng” dari Masa ke Masa

0
491
Gedung Panti Marhaen sebelum direnovasi. (Foto: Dok. DPD PDI Perjuangan Jateng)

DARI PAK BANJIR DAN SOEMARIO SAMPAI SOERATAL & MAS PATJUL

OLEH: SOETJIPTO (Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)

Label Jawa Tengah sebagai Kandang Banteng tidak terlepas dari perjalanan PNI, PDI dan PDI Perjuangan Jawa Tengah dari masa ke masa. Pada masa PNI dulu (sebelum fusi) di Jawa Tengah terdapat beberapa tokoh yang pernah memimpin PNI. Ada Pak Hadisubeno Sosrowerdoyo, Pak Mochtar, Pak Boerhan, Pak Oemar Said (semuanya sudah berpulang). Pada masa PDI, sekurangnya ada Pak Soemario, Pak Soeratal HW (juga sudah berpulang). Pada masa PDI Perjuangan ada Bung Mardio. Bung Murdoko, Bung Muhamad Prakosa (Plt Ketua), Bung Heru Sujatmoko, Bung Bambang Wuryanto (Bambang Patjul).

Mereka itulah panglima-panglima daerah yang pernah ikut memberikan “warna” perjalanan PNI, PDI dan PDI Perjuangan di Jawa Tengah. Tidak bermaksud mengurangi penghargaan kepada semua yang pernah memimpin partai politik yang menggunakan ajaran Bung Karno (Marhaenisme/ Pancasila) sebagai dasar atau asas perjuangan, ada beberapa di antara para tokoh itu yang perlu mendapatkan catatan khusus. Siapa saja mereka itu. Mereka adalah Hadi Subeno Sastro Werdojo, Soemario, Soeratal HW dan Bambang Wuryanto. Kenapa?

Hadi Subeno Sastro Werdojo (Pak Beno memimpin PNI Jawa Tengah pada tahun 1960-an. Kemudian, pada tahun 1971, dalam kongres PNI di Semarang, terpilih menjadi Ketua Umum PNI.

Hadi Subeno Sastro Werdojo Tokoh yang pernah menjadi Walikota Semarang dan Gubernur Jawa Tengah ini, akrab dengan panggilan Pak Beno. Beno dalam bahasa Jawa berarti banjir. Karena itu Pak Beno biasa disebut Pak Banjir. Beliau punya kelebihan mencintai dan dicintai massa. Di mana beliau hadir untuk memberikan ceramah massa pasti membanjir, mbludag, melimpah ruah. Namanya menjadi jaminan bahwa di mana Pak Beno datang massa pasti berduyun- duyun mendatangi. Piyayinya yang tinggi besar, dengan suaranya yang mantap menjadikan dirinya pemimpin sangat berwibawa.

Tinggal di Jl. Dr Setyobudi, di bawah tanjakan Gombel, rumah Pak Beno cukup besar, mewah, dengan halaman sangat luas. Rumah itu sekarang sudah berubah bentuk, berganti pemilik, menjadi Kantor Pajak. Di rumah itulah dulu, baik kader-kader partai dari daerah maupun tokoh-tokoh Pusat bertamu, berdialog, berdiskusi, berkonsolidasi. Pak Beno memimpin PNI Jawa Tengah pada tahun 1960- an. Kemudian, pada tahun 1971, dalam kongres PNI di Semarang, terpilih menjadi Ketua Umum PNI. Salah satu warisan yang ditinggalkan kepada kader-kader banteng, adalah OMDIS. Apa itu Omdis ? Kader harus memiliki organisasi yang baik, militansi yang tinggi dan sikap disiplin.

Bekas rumah Hadi Subeno Sastro Werdojo kini menjadi kantor KPP Pratama Semarang. (Foto: Ferry Eko AP.)

Di masa orba, Pak Beno harus menghadapi kenyataan, “ditinggalkan” cukup banyak kadernya, karena ketentuan monoloyalitas. Yaitu terkait dengan SK Mendagri yang mengharuskan semua pegawai negeri loyal kepada pemerintah dan arah politiknya jelas harus menjadi anggota Golkar yang pada waktu itu lebih dikenal sebagai partai penguasa. Padahal kader-kader PNI banyak yang di instansi pemerintah (Depdagri, Depdikbud dan Departemen Penerangan). Kalau tidak loyal, identik dengan harus mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pegawai negeri. Itulah salah satu faktor penyebab kalahnya PNI dalam pemilu pada masa Orde Baru.

Baca Juga :   KISAH PENDEK DARI SUKOHARJO

Soemario

Soemario (memakai Jas Biru) saat bersama dengan
Jajaran Senat Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang. (Foto: Dok. Yayasan Untag)

Tokoh ini berjuang di dua zaman. Baik pada masa PNI bersama Hadi Subeno Sastro Werdojo maupun ketika di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Kedudukannya sebagai Ketua DPD PDI Jawa Tengah sepertinya tidak pernah tergantikan. Tidak suka berpidato panjang- panjang. Pelan dan berhati-hati sekali bicaranya. Tetapi kelebihannya banyak. Beliau sangat mencintai partainya. Beliau rajin membina daerah/wilayah. Orangnya tekun, administrasi bagus, organisasi sangat tertib. Orangnya sangat sederhana. Ia piawai menjaga keseimbangan antara “loyal kepada pemerintah” di satu fihak dan, “keharusan merawat partainya dengan sangat sabar”. Pak Soemario sangat peduli dengan dunia pendidikan. Posisi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, yang berkembang seperti sekarang ini tidak terlepas dari peran besar beliau.

Soemario sosok Ketua DPD PDI Jawa Tengah di era awal Orde Baru yang sederhana tekun dan sangat mencintai partainya. (Dok. Yayasan Untag)

Selaku Ketua Yayasan Untag, serius meningkatkan kualitas para tenaga pengajarnya. Dosen-dosen S-1 dikirim ke UGM atau PTN lain untuk mendapatkan S-2. Begitupun yang sudah S-2 didorong untuk mendapatkan gelar doktor. Kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar negeri juga dilakukan. Tidak sedikit juga petinggi-petinggi partai berasal dari Untag. Sebut beberapa diantaranya Drs. Subagyo (alm) pernah duduk dalam kepengurusan DPP PDI, Drs. Suyanto pernah duduk di DPD PDI Jateng, atau juga Drs. Suwarno Tunjungseto, dan yang lain-lainnya.

Soeratal HW

Di Semarang ini setidaknya ada dua orang dosen dari fakultas yang berbeda tetapi dari Perguruan Tinggi negeri yang sama. Jiwa kepartaiannya luar biasa. Mereka adalah Drs. Soeratal HW dosen Fakultas Ekonomi Undip dan Karmani, SH, dosen Fakultas Hukum Undip. Keduanya adalah orang-orang kondang pada zamannya. Keduanya sepertinya tidak ambil peduli dengan ketentuan monoloyalitasnya Mendagri. Dalam Pemilu 1971 maupun 1977 kedua dosen itu aktif berkampanye untuk partainya. Soeratal HW untuk PNI/PDI, Karmani,SH untuk NU/PPP. Padahal keduanya adalah pegawai negeri. Keberanian yang saat itu jarang dimiliki oleh PNS yang lain.

Kalau berkampanye, Soeratal—kakak tokoh GMNI DIY, Drs. Sutoro (alm) ini, sering membawa wayang kulit. Dia sering mengangkat kejahatan dan kelicikan orang-orang Kurawa atau sebaliknya kebaikan Pandawa, sebagai cara untuk mengritik atau menyindir keadaan per-politikan saat itu.

Baca Juga :   Ora Ega Ora Obos

Soeratal memimpin PDI/ PDI Perjuangan Jawa Tengah bersamaan munculnya Ibu Megawati memimpin PDI/ PDI Perjuangan. Kesederhanaan dan integritasnya sebagai seorang marhaenis, menjadikan dirinya dipercaya untuk memimpin Partai. Kesederhanaan Soeratal terlihat dari rumah tempat tinggalnya. Sangat sederhana untuk ukuran seorang dosen senior. Atau mobil tuanya yang sering mogok di jalan. Ia tidak merasa malu dengan baju safarinya, mengisi air radiator ketika mobilnya mogok di Jl. A. Yani Semarang. Jarang marah, jarang mengeluh, itu sifat-sifatnya yang lain. Ia sering melindungi jika ada kadernya yang “nakal”. Misalnya, ketika ban mobilnya digembosi. Atau lagi, ketika jendela kaca rumahnya rusak karena dilempari batu. “Tidak terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja”, tuturnya ketika ada wartawan datang untuk meminta konfirmasi.

Baik Pak Beno, Pak Soemario, Pak Soeratal HW, bersama isteri mereka masing-masing semuanya sudah berpulang. Jenazah Pak Beno dan isteri, dimakamkan di Cilacap, daerah mereka berasal. Pak Soemario dan isteri dimakamkan di Semarang. Pak Soeratal HW dan isteri dimakamkan di Pakem, Sleman. Semoga arwah beliau semua mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT.

Bambang Wuryanto

Mas Bambang Patjul Ketua DPD PDI
Perjuangan Jawa Tengah saat roadshow di
Kabupaten Batang. (Dok. Ferry Eko AP.)

Siapakah panglima Partai berlambang banteng bulat moncong putih di Jawa Tengah sekarang ? Tidak lain adalah Bambang Wuryanto. Lengkapnya, Ir. Bambang Wuryanto, MBA. Tetapi dia lebih suka dipanggil Bambang Patjul. Ini untuk menunjukkan kedekatannya kepada petani—kelompok masyarakat yang oleh Bung Karno disebut sebagai salah satu sokoguru revolusi.

PDI Perjuangan Jawa Tengah layak merasa beruntung memiliki komandan yang satu ini. Mantan aktivis kampus dan aktivis GMNI ini memiliki segudang ilmu. Ilmu politik, ilmu tentang organisasi, ilmu tentang Pergerakan, tentang ajaran-ajaran Bung Karno. Atau apa saja yang berkaitan dengan kepartaian.

Sehari-harinya tinggal di Jakarta, di perumahan anggota DPR RI Kalibata. Dia memang anggota DPR dari F-PDI Perjuangan, bahkan Sekretaris Fraksi. Kesibukannya di Senayan tidak membuat gerak organisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah terganggu. PDI Perjuangan Jawa Tengah tetap saja sibuk dengan berbagai kegiatan produktif. Majalah politik “Derap Juang” yang sekarang Anda baca ini adalah salah satu hasil ide besarnya. Markas Partai, Panti Marhaen, di Jl. Brigjen Katamso 24 Semarang yang sekarang tampak gagah, bertingkat, membanggakan, lengkap dengan berbagai fasilitasnya adalah hasil polesannya. Kantor Partai itu nyaris tidak pernah sepi dari kegiatan. Bukan hanya untuk rapat-rapat. Tetapi juga untuk menggembleng kader-kader Partai dan calon kader. Di situlah ratusan Pandu Juang dan ribuan Komunitas Juang—dua badan Partai yang sangat dibanggakan, dibentuk. Pandu Juang dan Komunitas Juang punya tugas yang tidak ringan. “Merebut hati rakyat”. PDI Perjuangan Jawa Tengah telah pula memiliki pasukan siber yang siap diterjunkan ke medan laga untuk kepentingan Pilkada. Bahkan semua DPC Partai se Jawa Tengah telah memiliki pasukan jenis ini.

Baca Juga :   Ora Ega Ora Obos

Ada kerja besar lainnya yang pernah ditunjukkan “komandan” yang satu ini. Safari politik. “Road show”. Mendatangi semua DPC PDI Perjuangan se Jawa Tengah selama sebulan penuh. Ada kalanya satu hari datang ke dua atau tiga DPC. Untuk apa? Secara garis besar untuk melakukan dua hal. Apa itu? Pertama, menjelaskan kepada kader- kadernya akan fungsi partai politik.

Ada tujuh fungsi partai. Kader-kadernya harus tahu. Ialah fungsi Aspirasi, Fungsi Artikulasi, Fungsi Agregasi, Fungsi Edukasi, Fungsi Rekrutmen, Fungsi Elektoral, Fungsi Budgeting. Kedua, untuk berdialog dengan jajaran Partai. Forum seperti itu biasanya tidak hanya diikuti pengurus DPC tetapi juga pengurus-pengurus PAC dan, tokoh-tokoh yang tidak berada dalam struktur. Tema dialognya: “Anda Bertanya, Bambang Patjul Menjawab”. Bermacam-macam pertanyaan kader. Dari ihwal organisasi, politik, atau apa saja. Termasuk sepakterjang orang Partai yang duduk di lembaga legislatif. Mas Patjul melayani semua pertanyaan.

Dengan kata lain, sangat banyak “modal” telah diberikan oleh Mas Patjul selaku pimpinan Partai kepada kader-kadernya. Kalau jajaran Partai di sekitarnya, struktur Partai yang ada di DPC, PAC dan Ranting mampu mencerna, menghayati dan mengembangkan, cukup syarat bagi PDI Perjuangan Jawa Tengah untuk terus menjadi Partai besar yang selalu memenangi kontestasi politik apa pun: Pilpres, Pilkada, ataupun Pemilu legislatif.

Dan inilah sikap politik yang senantiasa ditekankan kepada kader-kader banteng moncong putih. Sikap tegak lurus. Artinya sebelum keputusan diambil oleh pimpinan, siapa pun boleh berdebat, boleh berargumentasi, boleh berbeda pendapat. Tetapi begitu Ketua Umum DPP PDI Perjuangan memutuskan sesuatu, semua harus taat. Satu komando, Tidak boleh ada pilihan lain.

Semua kader juga selalu diwanti-wanti. Sendiri, atau bersama-sama harus selalu membangun ini: Kebanggaan, solidaritas, dan disiplin. Jangan lupa itu! Camkan! Bangga kepada Partainya. Bangga kepada ideologinya. Bangga kepada pimpinannya. Bangga atas sikap konsisten dan konsekuen Partai sebagai pembela si marhaen/kawulo alit/wong cilik. Solider atau setia kawan kepada sesama kader, sesama anggota dan simpatisan Partai terutama kepada kawulo alit. Disiplin didalam menjalankan tugas dan kewajiban baik sebagai pimpinan, kader atau anggota Partai. Bagus kan? Nah, sampai di sini dulu. Salam Metal!