Riyadi: Kuda Lumping, Budaya Lokal yang Harus Dilestarikan

0

Kabupaten Pekalongan – Riyadi, anggota Fraksi PDI Perjuangan yang duduk di Komisi I DPRD Kabupaten Pekalongan mengadakan reses dengan paguyuban Suko Aji di Desa Sokoyoso, Kecamatan Kajen, Kamis (26/5/2002).

Paguyuban Suko Aji merupakan paguyuban orang-orang yang berkesenian dan mencintai budaya lokal yaitu Kuda Lumping. Dalam reses tersebut Riyadi memberikan bantuan oprasional yang diterima oleh Ketua Paguyuban Suko Aji, Amin Arso.

“Pada kesempatan ini, saya memberikan bantuan untuk paguyuban Suko Aji, meskipun bantuan cuma satu juta semoga dapat digunakan dan bermanfaat untuk nguri-uri kesenian Kuda Lumping,” tutur Riyadi yang juga sebagai Ketua PAC Kajen.

Riyadi berpesan agar kesenian Kuda Lumping atau Jaran Kepang untuk tetap dilestarikan sebagai budaya dan kearifan lokal, agar generasi muda mengerti dengan budaya asli lokal dan tidak diakui oleh negara lain seperti Malaysia yang pernah mengklaim Kuda Lumping.

“Setiap budaya harus dilerstarikan keberadaannya, selain untuk anak cucu kita kelak, budaya ini juga menjadi indentitas dari bangsa kita,” jelasnya.

Seperti diketahui, Kuda Lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang digelung atau dikepang, sehingga pada masyarakat Jawa sering disebut sebagai jaran kepang.

Tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Koresponden : Gus Santo

Baca Juga :   Kesekian Kali, Wonosobo Kembali Raih Penghargaan WTP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here