Menguji Tantangan Berpikir Progresif dan Konservatif
Kabupaten Boyolali – Tidak hanya searah, sebuah gagasan yang ideal mampu diuji dari berbagai arah. Begitulah kira-kira sepenggal kata yang menggambarkan kegiatan diskusi kelompok tantangan ideologi dalam agenda Diklat PAC PDI Perjuangan se-Jawa Tengah Angkatan II di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.
Panitia menyediakan sebuah narasi dilematis antara pentingnya pembangunan ekonomi dengan kondisi sosial masyarakat.
Di kelas NKRI misalnya, panitia menanyakan kepada masing-masing kelompok; bagaimana sikap yang akan diambil apabila ada investasi masuk ke sebuah wilayah dengan target mendirikan perusahaan dan mengembangkan lapangan kerja.
Setelahnya, masing-masing kelompok itu berdiskusi di tingkat internal. Hasil diskusi itu kemudian dipaparkan dan terjadilah proses dialog dari berbagai arah.
“Investasi itu bagus, karena rakyat bisa memperoleh keuntungan dari pajak usaha. Kemudian, perusahaan memperoleh untung dari laba,” ujar Falah Widya Yoga Pratama, salah satu peserta Diklat dari Boja, Kendal, Jumat malam (23/10/2026).
Pemikiran tersebut diuji lagi oleh kelompok yang lain dimana mereka memandang bahwa tujuan perusahaan seringkali bertentangan dengan realita di lapangan.
“Perusahaan hari ini muaranya adalah keuntungan saja. Kita sama-sama tau, kalau kajiannya tidak tepat, regulasi tidak ditegakkan, dan SOP tidak diperhatikan, maka perusahaan-perusahaan ini sekadar memeras keringat rakyat,” timpal Muhammad Arif Wahyudi dari Bangsri, Jepara.
Sebagai informasi, kegiatan diskusi ini bertujuan untuk melatih keberanian kader dalam menyuarakan aspirasi di akar rumput.
Selain itu, dengan adanya diskusi yang intens, maka sebuah keputusan akan mendekati pada nilai sempurna, sehingga lebih banyak manfaat yang didapatkan.
Tim Editor