Berangkat dari Teoritis, Struktur PAC Jawa Tengah Bakal Mencoba Praktik Eksplisit
Kabupaten Boyolali – Pasca mendapat pemahaman ideologis, struktur PAC PDI Perjuangan se-Jawa Tengah juga diharapkan mampu untuk melakukan praktik aktual di akar rumput.
Sebagai motor utama pergerakan, tentu peran struktur sangat strategis, terlebih dalam mendengar, menyerap, sekaligus menjembatani aspirasi masyarakat.
Disampaikan oleh Didik Kartika, peserta Diklat PAC PDI Perjuangan se-Jawa Tengah Angkatan II belajar mengenai teori Analisis Sosial.
“Mengenali masalah yang terjadi di akar rumput, berarti sama saja kita sedang mengenali masyarakat seutuhnya,” ujar Didik Kartika.
Analisis Sosial atau ANSOS merupakan salah satu metode dimana sebuah entitas memiliki target untuk melihat realitas sosial yang terjadi.
Caranya tidak cukup dengan membaca buku dan melihat pemberitaan, mereka harus terjun langsung ke lapangan untuk menemukan fakta dan realita.
Termasuk bagi kader PDI Perjuangan, mereka memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kepentingan Kaum Marhaen atau wong cilik.
Agar harapan dan cita-cita masyarakat benar-benar terwujud seutuhnya, maka mereka mesti menangkap pesan secara jernih.
Termasuk melalui ANSOS, dimana nantinya peserta Diklat PAC akan diterjunkan ke beberapa titik lokasi oleh panitia.
“Nanti panjenengan akan berdiskusi entah dengan UMKM, pedagang, ojol, tukang becak, dan yang lain. Panjenengan dalam berdiskusi itu akan menemukan data, fakta, dan tentu realita,” terang Didik Kartika.
Setelah observasi lapangan dan melakukan wawancara dengan berbagai subjek di titik lokasi yang telah ditentukan, maka tanggung jawab kader adalah menganalisa.
Paling utama adalah mengapa sebuah hal bisa terjadi. Misalnya adalah kenaikan harga, apakah hal itu disebabkan oleh perubahan musim atau terbentuk karena adanya sebuah kebijakan.
Selanjutnya, adalah kausalitas sebuah peristiwa. Jika perstiwa itu terjadi, maka dampaknya akan seperti apa dan bagaimana cara untuk menanggulanginya.
Misalnya, kenaikan harga bahan pokok akibat perubahan cuaca, dampaknya adalah petani mengalami kerugian, pedagang tidak bisa mendapatkan supplay barang yang optimal.
“Kemudian penanganannya seperti apa? Apakah sebaiknya diintervensi dengan impor agar ketersediaan barang tetap ada? Atau misalnya dengan sistem need’s drop dari wilayah atau pulau yang lain?” tandas Didik Kartika.
Tim Editor