Sambut HUT Ke-81 RI, Mbak Puan Bicara Warisan Setiap Pemerintahan Akan Diuji Generasi Penerus
Jakarta – Ketua DPR RI, Mbak Puan Maharani menyambut gembira peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Dalam pidatonya di Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I Tahun 2026-2027, ia menegaskan bahwa warisan perjuangan para pendiri bangsa harus dijaga bersama-sama dengan membangun Indonesia dalam bingkai persatuan dan kesatuan.
Dengan tema ‘Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur’, Mbak Puan menegaskan kembali, bahwa 81 tahun yang lalu, ketika Indonesia menyatakan Kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan.
Mbak Puan pun lalu berbicara soal rakyat yang telah melewati pintu gerbang kemerdekaan menuju Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur di usia Indonesia ke-81 tahun. Selama 81 Tahun itu pula, telah silih berganti Pemerintahan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Setiap pemerintahan akan meninggalkan warisannya masing-masing. Warisan itu bukan sekedar deretan kebijakan atau pembangunan fisik, melainkan jejak nilai, keputusan, dan pengabdian yang akan dikenang oleh sejarah. Apa warisan kita bagi masa depan Indonesia?” ungkapnya di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Seiring berjalannya waktu, Mbak Puan menyebut generasi-generasi penerus bangsa yang akan menguji nilai sejati dari setiap warisan tersebut.
“Mereka akan menilai apakah langkah-langkah yang diambil benar-benar membawa bangsa Indonesia semakin dekat kepada cita-cita kemerdekaan, menghadirkan keadilan, kesejahteraan, persatuan, dan martabat bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.
Ia memandang, membangun Indonesia sebagai bangsa yang besar bukan hanya memerlukan sumber daya dan kebijakan yang tepat, tetapi juga fondasi yang paling mendasar, yaitu persatuan dan kesatuan.
“Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan pandangan politik, maka kemauan dan kemampuan kita untuk tetap berjalan bersama, bergandeng tangan, merupakan kekuatan terbesar bangsa Indonesia,” jelasnya.
Mbak Puan menekankan, persatuan bukanlah keadaan yang lahir karena kita sama, melainkan pilihan untuk tetap bersama walaupun kita berbeda. Persatuan dan kesatuan bukan sekadar cita-cita, melainkan prasyarat bagi keberhasilan pembangunan nasional.
“Tanpa persatuan dan kesatuan, setiap upaya pembangunan akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Perbedaan mudah berubah menjadi perpecahan, kepercayaan sosial melemah, dan energi bangsa habis untuk menyelesaikan konflik,” ungkap mantan Menko PMK ini.
“Sebaliknya, ketika seluruh anak bangsa saling percaya, saling menghormati, menjunjung tinggi semangat gotong royong, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan, maka pembangunan tidak hanya berjalan lebih efektif, akan tetapi juga mampu menghadirkan manfaat yang besar dan adil bagi seluruh rakyat Indonesia,” Tandas Mbak Puan
Tim Editor