Menumbuhkan Kader Berpikiran Kritis dan Mau Mendengarkan Melalui Giat Analisa Sosial
Kabupaten Boyolali – Peserta Training of Trainer (ToT) Pendidikan dan Pelatihan PAC PDI Perjuangan Jawa Tengah diajak untuk berlatih berpikir kritis atas realitas sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, Sabtu (03/10/2026).
Salah satunya melalui kegiatan analisa sosial, dimana peserta ToT diajak untuk terjun ke lapangan, observasi, sekaligus mewawancarai masyarakat secara random.
Secara konseptual, analisa sosial ini memiliki urgensi untuk seorang kader partai. Pertama, dia bisa bercengkrama dengan siapapun dan dimanapun.
Skill komunikasi ini merupakan aspek mendasar yang harus dimiliki kader. Ketika dia mampu membuka komunikasi, maka potensi untuk mendapat ‘informasi’ akan jauh lebih besar.
Kedua, analisa sosial memiliki maksud supaya kader partai punya kemampuan untuk mendengarkan suara di akar rumput.
Kejernihan informasi berada di lapisan paling bawah. Ketika kader mampu menerjemahkan aspirasi masyarakat, maka hal ini bisa dikonversi menjadi keputusan dan kebijakan yang representatif.
“Harus mendengarkan, tertawa dan menangis bersama rakyat. Ini melatih kader, mereka harus komunikasi, harus menangkap harapan-harapan wong cilik,” papar Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Endrianingsih Yunita saat mendampingi peserta melaksanakan Analisa Sosial di Pasar Rakyat Kebon Agung.
Setelah melaksanakan observasi dan wawancara, kemudian peserta diminta untuk me-resume fakta-fakta sosial yang terjadi.
Setelahnya, mereka mesti menganalisa apa yang menjadi faktor penyebab sebuah fenomena, bagaimana runtutan fenomena, dampak, serta upaya penanggulangannya.
“Tadi misalnya pedagang di pasar mengeluhkan mereka beli bahan baku harganya naik. Tapi, mereka tidak menjual dengan harga yang juga naik, karena kalua dinaikkan, konsumen tidak beli,” terang Endrianingsih Yunita.
Penyebabnya-pun tidak hanya karena faktor tunggal semata. Pertama, harga BBM naik, sehingga cost untuk mobilitas barang juga naik.
Kedua, keadaan cuaca yang tidak stabil. Ketika curah hujan terlalu tinggi atau musim kemarau yang berkepanjangan, rata-rata harga bahan pokok melonjak tajam.
Kemudian, consumen behaviour dimana saat ini tidak sedikit pembeli yang lebih sering berbelanja lewat media online atau supermarket, tidak lagi ke pasar tradisional.
Tim Editor