Bung Karno, Hari Lahir Pancasila, dan Gotong Royong sebagai Jati Diri Bangsa
Kabupaten Temanggung – ‘Juni’ menjadi bulan yang memiliki kedekatan penuh dengan Sang Proklamator, Bung Karno. Ia lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dan berpulang kepada-Nya pada 21 Juni 1970.
Di bulan Juni, Bung Karno juga memiliki momen penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Ia mencetuskan ‘Pancasila’ sebagai dasar Indonesia Merdeka pada 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI.
Pancasila Jati Diri Bangsa Indonesia
Bung Karno menegaskan bahwa ia bukan pencipta Pancasila. Bung Karno menggali Pancasila dari nilai-nilai luhur bangsa, budaya, dan kearifan yang telah berakar dalam jiwa serta sejarah peradaban Nusantara.
Dalam penyampaiannya di Sidang BPUPKI, Bung Karno menegaskan bahwa Pancasila terdiri dari 5 dasar utama, yakni;
- Kebangsaan Indonesia
- Internasionalisme atau Pri Kemanusiaan
- Mufakat/Demokrasi
- Kesejahteraan Sosial
- Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Dari Ende Dasar Bernegara Tergali
Kurun waktu 1934-1938, Sang Proklamator berada dalam masa pengasingan di Ende, NTT. Ia diasingkan oleh pemerintah kolonial karena secara terang-terangan terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Di kota ini ku temukan lima butir Mutiara, di bawah pohon sukun ini pula ku renungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Bung Karno.
Ketika itu, Bung Karno sering duduk termenung, menghabiskan waktu di sore hari di bawah pohon sukun bercabang lima yang menghadap ke Teluk Ende. Pohon tersebut kemudian kini dinamakan ‘Pohon Pancasila’.
Renungan Bung Karno untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia, menurutnya harus didasari pondasi kuat, agar tercapai persatuan, keteraturan, serta arah masa depan bangsa yang jelas.
Inilah yang kemudian membuatnya berkontemplasi dan beretrospeksi terhadap jati diri bangsa Indonesia yang kemudian dikristalisasikan menjadi ‘Pancasila’.
Pancasila, Trisila, dan Ekasila
Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Bung Karno mencetuskan istilah Pancasila yang terdiri dari 5 dasar; Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme/Pri Kemanusiaan, Mufakat/Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang Bekebudayaan.
Kemudian, Bung Karo menyebut bahwa lima dasar itu bisa diringkas menjadi tiga dasar yang terdiri dari;
- Sosio-nasionalisme
- Sosio-demokrasi
- Ketuhanan yang berkebudayaan
Tiga dasar itu kemudian dikenal sebagai Trisila yang merupakan kerangka operasional dan ruh spiritual dalam perjuangan ‘Marhaenisme’.
Dari Trisila itu, Bung Karno juga menegaskan jika intisarinya adalah ‘Gotong Royong’. Satu dasar yang mencerminkan seluruh kearifan dan jati diri bangsa inilah yang kemudian disebut sebagai Ekasila.
Menurut Bung Karno, gotong royong adalah “pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua”.
Legalitas Hari Lahir Pancasila
Pasca 71 tahun Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia kemudian memberikan pengakuan penuh bahwa ‘Pancasila’ lahir dan diperingati setiap tanggal 1 Juni.
Legalitas tersebut tertuang melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 yang merujuk pada momen bersejarah saat Bung Karno menyampaikan gagasan dasar negara di Sidang BPUPKI.
Tim Editor