Kota Semarang – Hujan deras dan angin kencang yang menghantam kawasan Simpang Lima pada gelaran Semarang Night Carnival (SNC) 2026, Sabtu malam lalu, menjadi ujian nyata bagi ketangguhan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Jawa Tengah. Di tengah cuaca ekstrem yang mengancam partisipan dari 28 negara tersebut, aspek mitigasi risiko menjadi sorotan utama Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena.
Bagi Samuel, peristiwa ini bukan sekadar soal parade kostum yang basah kuyup, melainkan momentum pembuktian profesionalisme penyelenggaraan acara. Ia menegaskan bahwa dalam industri kreatif berskala internasional, keselamatan adalah hukum tertinggi yang tidak boleh dikompromikan oleh estetika panggung semata.
“SNC 2026 harus menjadi benchmark bagi penyelenggara MICE nasional saat berhadapan dengan kondisi force majeure. Estetika itu penting, tapi keselamatan nyawa dan teknis adalah fondasi utamanya,” ujar Samuel di sela-sela acara.
Mitigasi Cepat di Tengah Krisis
Samuel memberikan apresiasi khusus pada langkah taktis Disbudpar Kota Semarang.
Kecepatan tim lapangan dalam melakukan mitigasi risiko—mulai dari pengamanan instalasi kelistrikan hingga penyesuaian alur parade di tengah cuaca buruk—dinilai sebagai bentuk respons krisis yang matang. Strategi ini dianggap Samuel sebagai kunci mengapa acara tetap bisa berlangsung kondusif meski alam tidak bersahabat.
Ketangguhan peserta yang tetap melaju di tengah badai menjadi simbol bagi narasi “Local is the New Global” yang selama ini ia gaungkan. Namun, Samuel mengingatkan bahwa resiliensi ini harus didukung oleh ekosistem yang berkelanjutan. Ia mendorong penyediaan ruang galeri permanen agar karya kostum spektakuler yang dirancang anak muda Semarang tidak hanya berakhir sebagai euforia semalam, tetapi menjadi bagian dari ekonomi kota yang berumur panjang.
Narasi Baru Ekonomi Kreatif
Visi Samuel soal kemandirian ini sebenarnya telah ia tanamkan sejak Februari lalu saat menyambangi Kampung Ranting Pelangi Wonopolo. Di hadapan komunitas seni, ia konsisten menekankan bahwa pelaku budaya harus berhenti terpaku pada keterbatasan anggaran pemerintah.
“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton atau terjebak dalam gosip anggaran minim. Kebudayaan wajib dilestarikan, dan kolaborasi adalah jalan keluarnya,” tegasnya. Melalui kemitraan strategis dengan media seperti TVRI dan Antara, Samuel ingin memastikan setiap nilai filosofis wastra nusantara terdokumentasi dengan kuat.
Bagi sang politikus, insiden hujan di SNC 2026 adalah pengingat: ekonomi kreatif yang kuat lahir dari perpaduan antara karakter lokal yang tangguh, narasi publikasi yang terencana, dan manajemen risiko yang tanpa celah. Di Semarang, Samuel melihat standar baru itu sedang ditegakkan.
Tim Editor.















