
Kabupaten Temanggung — Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar Anggota MPR RI, Sofwan Dedy Ardyanto di Pendopo Caruban, Kandangan, menjadi momentum penegasan pentingnya regenerasi kepemimpinan nasional yang sehat dan berkarakter.
Di hadapan ratusan anak muda, Sofwan menegaskan bahwa keberhasilan sebuah negara tidak hanya diukur dari capaian hari ini, tetapi dari kemampuan menyiapkan generasi penerus yang siap memegang estafet kepemimpinan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyiapkan tunas-tunas pemimpin masa depan. Anak muda hari ini adalah penentu arah Indonesia esok hari,” ujarnya, Selasa sore (10/02/2026).
Menurutnya, proses regenerasi harus berlandaskan Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak.
Sebagai contoh konkret, Sofwan menyinggung pengalaman Jepang pasca kekalahan dalam Perang Dunia II. Ia menyebut, setelah Jepang menyerah pada 1945, Kaisar Hirohito memprioritaskan pembenahan sektor pendidikan sebagai fondasi kebangkitan nasional.
“Ketika Jepang kalah perang, yang pertama dipikirkan adalah bagaimana membangun kembali kualitas sumber daya manusianya, termasuk memastikan keberadaan dan kualitas guru. Pendidikan diperkuat, nasionalisme ditanamkan. Dari situ lahir generasi baru yang membawa Jepang bangkit menjadi negara maju,” kata Sofwan.
Kaisar Hirohito, yang memimpin Jepang dalam periode krusial tersebut, menurut Sofwan, memahami bahwa kekuatan bangsa terletak pada kualitas manusia dan karakter kebangsaannya.
Kombinasi antara pendidikan yang kuat dan nilai nasionalisme menjadi fondasi kebangkitan Jepang modern sama seperti hari ini.
Ia menilai, Indonesia juga memiliki fondasi ideologis yang kokoh melalui Empat Pilar Kebangsaan. Tantangannya adalah bagaimana generasi muda tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi menginternalisasikannya dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Regenerasi kepemimpinan bukan hanya soal usia muda, tetapi soal kapasitas, integritas, dan visi kebangsaan. Anak muda harus inovatif, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Tim Editor














