Indonesia Berkepribadian dalam Kebudayaan

0
Foto: Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno

Kota Semarang – Pada Hari Ulang Tahun yang ke-48, PDI Perjuangan mengambil tema “Indonesia Berkepribadian dalam Kebudayaan”. Tema tersebut adalah poin ke-3 dari isi Tri Sakti Bung Karno, yaitu: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian di Bidang Kebudayaan.

TRI SAKTI BUNG KARNO
Trisakti “dilahirkan” pada pidato kenegaraan Bung Karno, 17 Agustus 1964. Dalam pidato yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso” atau disingkat “Tavip”, Bung Karno mengungkapkan tiga jurus sakti tersebut yang dianggap mampu membangkitkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.
Berdaulat dalam bernegara tanpa intervensi bangsa lain setelah sekian tahun terjajah. Mengolah segala potensi ekonomi sendiri dengan jargon “Berdiri di Atas Kaki Sendiri” atau Berdikari tanpa bergantung pada bangsa lain. Dan, menjadi bangsa yang memiliki karakter, watak, dan kepribadian sesuai dengan warisan leluhur berupa nilai-nilai positif dan keluhuran budaya yang telah berkembang di masyarakat sebagai warisan nenek moyang.

BERKEPRIBADIAN
Berkepribadian terdiri dari kata “kepribadian” yang mendapatkan awalan “ber” yang artinya “mempunyai kepribadian”.

Kepribadian individu adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Disamping itu, kepribadian sering diartikan sebagai ciri-ciri yang menonjol pada diri individu. Secara teratur, kepribadian bisa tumbuh dan mengalami perubahan.

Kepribadian bangsa adalah keseluruhan ciri khas atau identitas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa yang lain. Keseluruhan ciri khas bangsa adalah pencerminan dari garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa tersebut sepanjang masa. Misalnya ciri khas bangsa Indonesia tentu berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya.

Kepribadian bangsa Indonesia tercermin di dalam sila-sila yang ada pada Pancasila. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berTuhan, berperikemanusiaan, berjiwa nasionalisme, dan menjunjung tinggi persatuan, mengedepankan musyawarah untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, serta mengutamakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga :   Masa Pandemi Covid-19, Kader Muda PDI Perjuangan Klaten Sukses Berbisnis Kuliner

KEBUDAYAAN
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal); diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura.

Masyarakat seringkali mengartikan kebudayaan sebagai kesenian. Padahal, kebudayaan memiliki arti yang lebih luas dari kesenian. Kesenian hanyalah salah satu unsur dari suatu kebudayaan. Dilansir dari buku Pengantar Antropologi (1991) karya Koentjaraningrat, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.
Sehingga dapat dipahami bahwa kebudayaan ada di tengah-tengah masyarakat, muncul dalam tingkah laku, dan dipelajari. Jadi, kebudayaan tidak muncul begitu saja, melainkan muncul karena dipelajari. Salah satu pembelajarannya melalui enkulturasi; yaitu proses sosial budaya yang dipelajari dan ditransmisikan dari generasi ke generasi.

Tidak bisa memungkiri, bahwa kebudayaan memiliki peranan penting bagi manusia. Kebudayaan berperan menghubungkan manusia dengan alam sekitarnya dan dengan masyarakat tempat manusia tersebut tinggal. Selain berperan penting bagi manusia, kebudayaan juga memiliki unsur-unsur yang bisa digunakan untuk memudahkan pemahaman terhadap konsep kebudayaan itu sendiri. Unsur-unsur kebudayaan antara lain; unsur moral, religi, sosial (kemasyarakatan), tradisi, pengetahuan, bahasa, seni, ekonomi, dan teknologi.

BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN

Trisakti bukan merupakan cita-cita dasar seperti halnya Pancasila dan UUD 45, namun secara bersama-sama semua itu harus berjalan beriringan dalam mencapai tujuan bangsa. Pada prakteknya dari ketiga konsep dalam Tri Sakti itu yang paling mendapat porsi sedikit adalah yang ketiga.

Bidang kebudayaan sepertinya menjadi kabur dan dianggap kuno serta sedikit banyak tergerus oleh kebudayaan yang datang dari luar. Masyarakat secara umum lebih dominan mengambil porsi pada dua poin pertama. Baik dalam obrolan-obrolan di meja kantor maupun dalam berkehidupan sehari-hari. Pembahasan tentang budaya nyaris tak terdengar di kalangan masyarakat pada umumnya. Sehingga sangat tepat jika PDI Perjuangan pada ulang tahunnya yang ke-48 kali ini mengambil tema “Indonesia Berkepribadian dalam Kebudayaan”.

Baca Juga :   Wabup Rista Bicara Urgensi Literasi Digital Masa Pandemi Covid-19

Penggunaan istilah berkepribadian dalam kebudayaan oleh Bung Karno mempertegas, bahwa Indonesia adalah bagian dari dunia. Sehingga hal ini sudah seharusnya memiliki identitas pribadi yang hanya akan menjadi milik Indonesia, yaitu Pancasila. Jika dunia adalah populasi negara-negara, maka Indonesia adalah individu dengan watak, karakter, dan pribadi yang berbeda dari yang lain. Dimana seluruh negara di dunia akan mengenal Indonesia karena kebudayaannya yang memiliki kepribadian (kebudayaan yang berada dalam batasan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila). Maka, seluruh negara dunia bisa berkata “Oh, ini toh negara Indonesia”.

Tapi kebudayaan atau budaya seperti apa yang diharapkan? kebudayaan yang Bung Karno harapkan adalah kebudayaan yang merupakan warisan dari para leluhur bangsa Indonesia. Kebudayaan tradisional yang mengandung nilai-nilai, pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, dan adat istiadat. Kebudayaan tidak melulu soal kesenian, karena kebudayaan bisa berarti sebuah perilaku masyarakat maupun hasil dari kehidupan bermasyarakat.

Dari semua unsur kebudayaan di atas, bermuara pada satu budaya, yaitu gotong-gotong. Ya, kebudayaan khas bangsa Indonesia adalah budaya gotong royong. Gotong-royong telah menjadi budaya bangsa sejak zaman nenek moyang kita. Gotong-royong bisa dilakukan dalam berbagai bidang, misalnya di bidang agama, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Itu semua adalah ciri yang seharusnya menjadi lestari sebagai identitas masyarakat dan negara Indonesia.

Dalam Pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan :

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama!  Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! itulah Gotong Royong!

Sebagai generasi muda pemegang tongkat estafet, yang di masa mendatang akan menjadi pengajar dan pendidik untuk generasi berikutnya (paling tidak untuk anak kita), sudah menjadi kewajiban untuk menyeimbangkan konsep Trisakti tersebut, khususnya untuk “Berkepribadian di Bidang Kebudayaan”.

Baca Juga :   DPC PDI Perjuangan Purbalingga Rayakan Idul Adha

Ada tiga pilihan yang dapat diambil, yaitu:

  1. Tidak mau mewarisi karena menganggap budaya Bangsa Indonesia sudah ketinggalan zaman atau tidak sesuai dengan ajaran yang dianutnya dan kemudian mengganti/mengubahnya dengan budaya dan nilai-nilai dari bangsa lain yang dianggap modern atau cocok.
  2. Menjadi pewaris tapi hanya untuk digunakan sendiri dan membiarkannya tergerus oleh budaya dan nilai-nilai dari bangsa lain tanpa peduli pada generasi mendatang.
  3. Memilih untuk mewarisi serta mewariskan budaya dan nilai-nilai luhur kepada generasi yang akan datang agar Indonesia selalu dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan

Kepribadian dan identitas bangsa Indonesia mendatang tergantung pilihan tersebut.

Karya : Sugeng Wibawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here