
Kabupaten Wonosobo – Tantangan yang dihadapi pemuda Indonesia saat ini semakin kompleks. Lapangan kerja formal kian terbatas, sementara jumlah angkatan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun. Di saat yang sama, kemajuan teknologi dan otomatisasi mulai menggantikan peran manusia dalam berbagai sektor industri.
Kondisi ini menempatkan pemuda pada persimpangan penting; menunggu kesempatan yang semakin sempit atau membangun kemandirian ekonomi dengan kekuatan sendiri.
Realitas tersebut dirasakan langsung oleh banyak pemuda di daerah. Setelah lulus sekolah atau perguruan tinggi, tidak sedikit yang harus menghadapi kenyataan sulitnya mendapatkan pekerjaan sesuai bidang dan harapan. Sebagian bahkan terpaksa bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu.
“Sekarang cari kerja tidak cukup hanya ijazah. Banyak perusahaan butuh pengalaman dan keahlian khusus. Kalau tidak punya sulit bersaing,” ujar Rizki (25), pemuda asal Wonosobo kepada Tim Derap Juang, Minggu malam (21/12/2025).
Situasi ini diperparah oleh disrupsi teknologi. Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan mesin otomatis perlahan menggantikan tenaga manusia, khususnya pada pekerjaan yang bersifat rutin. Tanpa peningkatan kompetensi, pemuda berisiko semakin tersisih dalam persaingan kerja.
Dalam konteks inilah, gagasan Trisakti Bung Karno kembali menemukan relevansinya. Salah satu pilar Trisakti menekankan pentingnya berdikari secara ekonomi, yakni kemampuan bangsa dan rakyat untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada pihak lain.
Bagi pemuda, berdikari ekonomi tidak selalu berarti menjadi pemodal besar. Lebih dari itu, kemandirian ekonomi dapat dimulai dari membangun kompetensi, keterampilan, dan mental kewirausahaan yang kuat.
Jiwa entrepreneurship menjadi kunci agar pemuda tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.
Anggota MPR RI, Sofwan Dedy Ardyanto dalam kesempatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Wonosobo menekankan bahwa pemuda harus mampu membaca tantangan zaman secara kritis.
“Pemuda hari ini harus meningkatkan kapasitas diri. Pendidikan, keterampilan, dan karakter harus berjalan beriringan agar mampu mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai kebangsaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, di tengah keterbatasan lapangan kerja, faktanya masih terdapat pemuda mulai mengambil jalan alternatif dengan merintis usaha kecil berbasis potensi lokal. Ada yang mengembangkan usaha kuliner, pertanian modern, kerajinan, hingga bisnis digital.
Teknologi yang sebelumnya dianggap ancaman, justru dimanfaatkan sebagai alat untuk memperluas pasar dan efisiensi usaha.
Contohnya, komunitas pemuda di Wonosobo yang mengembangkan produk UMKM lokal dan memasarkan secara daring. Dengan pelatihan digital marketing dan manajemen usaha sederhana, mereka mampu menciptakan sumber penghasilan mandiri sekaligus membuka peluang kerja bagi pemuda lain.
Sofwan menilai, tantangan terbesar bukan hanya pada minimnya lapangan kerja, tetapi pada kesiapan mental dan kompetensi pemuda menghadapi perubahan. Tanpa peningkatan kapabilitas, bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru berpotensi menjadi beban sosial.
Karena itu, penguatan jiwa entrepreneurship harus dibarengi dengan pemahaman nilai kebangsaan. Berdikari ekonomi ala Bung Karno bukanlah individualisme ekonomi, melainkan kemandirian yang tetap berpijak pada solidaritas sosial dan kepentingan bangsa.
Di tengah disrupsi teknologi dan persaingan global, pemuda Indonesia dituntut tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kokoh secara ideologis. Empat Pilar Kebangsaan menjadi pedoman agar upaya membangun kedaulatan ekonomi pribadi tetap sejalan dengan cita-cita besar bangsa; keadilan sosial, persatuan, dan kesejahteraan bersama.
Tim Editor














