Aisyiyah, Fatmawati, dan Puan Maharani

0
Puan Maharani Bersalaman dengan Warga Muhammadiyah yang Hadir dalam Muktamar

Kota Surakarta – Ketua DPR RI, Puan Maharani disambut hangat dan antusias oleh kader Aisyiyah Muhammadiyah saat hadir dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Asyiyah yang berlangsung di Solo, Sabtu (19/11/2022).

Para peserta muktamar juga memburu Puan Maharani untuk diajak berfoto bersama atau hanya bersalaman. Bahkan nama Puan juga disambut gemuruh tepuk tangan ketika disebut oleh Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Dari hasil telisik yang diperoleh penulis, ternyata Puan Maharani berasal dari keluarga besar Muhammadiyah. Menurut tokoh muda perempuan Muhammadiyah, Ulfah Mawardi, Puan memang tidak asing bagi keluarga besar Muhammadiyah, karena kakek dan neneknya (Bung Karno dan Fatmawati) merupakan kader Muhammadiyah.

Maka tak heran, jika Puan hadir dalam acara Muhammadiyah atau Aisyiyah seperti pulang ke rumah. Demikian juga penyambutan Muhammadiyah-Aisyiyah terhadap Puan.

“Saat kedatangan, penyambutan sangat antusias, terutama dari teman-teman Aisyiyah yang dalam pergerakan dan perjuangannya mendapatkan spirit perjuangan Bu Fat, tokoh perempuan Kemerdekaan Indonesia yang juga kader Muhammadiyah. Bu Puan adalah Fatmawati masa kini yang merepresentasikan perjuangan kaum perempuan,” kata Ulfah di area muktamar, dilansir dari Sindonews.

Fatmawati Berasal dari Keluarga Muhammadiyah

Fatmawati binti Hassandin tidak hanya berjasa dalam menjahit Sang Saka, bendera Merah Putih pertama Republik Indonesia. Tetapi juga seorang ibu negara yang tangguh dalam menjaga bara api perjuangan sang suami, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno untuk tetap menyala dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Dilansir dari muhammadiyah.or.id, saat Fatmawati lahir pada 5 Februari 1923, Muhammadiyah belum memiliki cabang resmi di luar Jawa. Tetapi, antara tahun tersebut hingga 1925 saat kedatangan pendiri Sarekat Ambon Alexander Jacob Patty di Bengkulu untuk menjalani masa pembuangannya, ditengarai sebagai tahun berdirinya Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi pergerakan di Bengkulu.

Baca Juga :   Bentuk Kepedulian dan Apresiasi Jaza Khoerul pada Olahraga Bola Voli

Dalam otobiografi Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1985) Muhammadiyah ketika itu langsung memanfaatkan kehadiran AJ Patty untuk turut berkiprah dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah yang kemudian segera dianggap oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai ancaman.

Suasana Tanah Sir pada 1923-1930 yang subur oleh pergerakan nasional membuat Hassandin tidak berpikir panjang untuk keluar dari zona nyaman menjadi pegawai Borsumy dan memulai hidup dengan pendapatan tak menentu atas keputusannya untuk tetap berkhidmah pada Muhammadiyah sebagai jalur perjuangan kemerdekaan.

Tak kalah dengan Hassandin yang terkenal militan pada Muhammadiyah, Fatmawati, Siti Jubaidah aktif di dalam ‘Aisyiyah guna memberikan ketrampilan atau mengajar baca tulis.

Saat Fatmawati menginjak usia remaja, baik Hassandin maupun Siti Jubaidah telah menjabat sebagai konsul Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Oleh keduanya, Fatmawati selalu dilibatkan dalam konferensi Muhammadiyah yang digelar setiap tahun untuk menyanyi atau membaca Al-Qur’an.

Puan Fatmawati Masa Kini

Seperti yang disampaikan tokoh muda Muhammadiyah, Ulfah Mawardi bahwa Puan memang dari keluarga besar Muhammadiyah, baik kakeknya, neneknya, hingga kakek dan nenek buyutnya juga tokoh Muhammadiyah di Bengkulu masa itu.

Maka tak heran dalam forum pembukaan Muktamar, sambutan meriah terlihat saat Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, menyebut nama Puan sebagai salah satu undangan yang hadir.

“Warga Muhammadiyah yang menonton acara Muktamar di layar lebar depan Stadion Manahan bertepuk tangan ketika nama Bu Puan disebutkan oleh Presiden dan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir,” ujar Ulfah.

Sementara itu, Puan maharani menyampaikan, pada milad kali ini, yang bertepatan dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah, menjadi momentum yang sangat tepat untuk terus membaurkan apa yang telah diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan, yang spiritnya juga bertalian erat dengan konsep Islam is Progress sebagaimana dipopulerkan Bung Karno.

Baca Juga :   PAC PDI Perjuangan Bawang Gelar Rakor Bersama Relawan Sosial

“Upaya mengaplikasikan nilai-nilai perjuangan dengan tujuan mencerahkan semesta yang digelorakan oleh Muhammadiyah juga satu tarikan nafas dengan konsep Pembangunan Semesta Berencana yang digagas Bung Karno,” ungkap Puan.

Penulis: Saf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here