Selamat Jalan & Sampai Jumpa Utang Rasa Mas Guruh Soekarnoputra
Kabupaten Temanggung – Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau yang lebih dikenal sebagai Mas Guruh Soekarnoputra merupakan putra bungsu Sang Proklamator, Bung Karno dari pernikahannya dengan Fatmawati.
Mas Guruh juga merupakan adik dari Presiden RI Ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Bangku Pendidikan Mas Guruh
Pria kelahiran Jakarta, 13 Januari 1953 itu menempuh Pendidikan di SD dan SMP Perguruan Cikini. Kemudian, menamatkan pendidikan menengah di SMA N 25 Jakarta pada tahun 1967-1970.
Tak cukup sampai di situ, Mas Guruh kemudian mengenyam pendidikan tinggi hingga mendapat beberapa gelar, di antaranya adalah gelar Sarjana Administrasi Publik, Magister Manajemen, dan Magister Sains.
Seni Sebagai Urat Nadi Mas Guruh
Sejak kecil, Mas Guruh dikenal sebagai putra Bung Karno yang lekat dengan seni. Ia menekuni tari, musik, dan seni pertunjukan hingga melahirkan berbagai karya yang membekas pada dunia musik Indonesia.
Mas Guruh mendirikan kelompok kesenian Swara Mahardhika yang kemudian berkembang menjadi GSP Production atau Gencar Semarak Perkasa. Dari kelompok tersebut, ia mengembangkan berbagai pertunjukan yang memadukan tari, musik, tata panggung, dan unsur tradisi Indonesia.
Di dunia musik, salah satu karya Guruh yang paling banyak dikenang adalah Guruh Gipsy. Album yang dirilis pada 1977 itu lahir dari kolaborasi Guruh dengan grup musik Gipsy yang beranggotakan Keenan Nasution, Chrisye, Abadi Soesman, Roni Harahap, dan Oding Nasution.
Guruh Gipsy menjadi karya yang menarik karena mempertemukan musik rock dengan unsur musik tradisional Jawa dan Bali. Mas Guruh mengarahkan konsep musik dalam proyek tersebut, sementara para personel Gipsy mengisi permainan musiknya.
Album itu kemudian mendapat tempat khusus dalam sejarah musik Indonesia. Pada 2007, Rolling Stone Indonesia menempatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa.
Mas Guruh juga pernah terlibat dalam Gank Pegangsaan bersama sejumlah musisi, termasuk Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye. Dari berbagai kolaborasi tersebut, ia ikut melahirkan warna musik yang unik dan berbeda karena memadukan musik modern dengan akar budaya Indonesia.
Sejumlah lagu ciptaannya kemudian dikenal luas menjadi karya klasik yang tak lekang oleh zaman. “Kala Cinta Menggoda” yang dipopulerkan Chrisye membawa Mas Guruh meraih penghargaan Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia 1998.
Karya lainnya, “Kala Sang Surya Tenggelam”, kembali terdengar dan dikenal oleh generasi yang lebih muda setelah digunakan dalam serial Gadis Kretek pada 2023. Hal ini menunjukkan bagaimana karya Mas Guruh masih menemukan ruang di tengah pendengar lintas generasi.
Kiprah Mas Guruh juga sampai ke layar lebar. Ia terlibat sebagai penata musik dalam sejumlah film, di antaranya Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Roman Picisan. Ia bahkan sempat tampil sebagai aktor dalam film Sembilan Wali dan Untukmu Indonesiaku.
Sepanjang perjalanan berkesenian, Mas Guruh menerima sejumlah penghargaan. Ia meraih Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam Anugerah Musik Indonesia 1998, kemudian menerima Lifetime Achievement Award pada 2010.
Pada 23 Maret 2011, bertepatan dengan peringatan Hari Musik Nasional, Mas Guruh menerima Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI).
Namanya juga masuk dalam daftar The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia pada 2008.
Politik dan Pengabdian Mas Guruh untuk Bangsa
Selain berkarya melalui seni, Mas Guruh ternyata juga mewarisi darah perjuangan politik ayahnya, Bung Karno. Ia tercatat pernah menjadi Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur pada periode 1992-1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI), kemudian kembali menjadi Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan pada 1999-2024.
Kiprahnya di Parlemen DPR RI mencatatkan rekor tersendiri sebagai legislator yang melewati tiga era kepemimpinan nasional: Orde Baru, Transisi, dan Reformasi.
Guruh pertama kali melangkah ke Senayan pada periode 1992–1997 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Memasuki era Reformasi, ia konsisten mengabdi lewat PDI Perjuangan dan terus terpilih sebagai anggota DPR RI dari periode ke periode:
Pada 1999–2004 & 2004–2009, Guruh mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur VI (Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten/Kota Blitar, dan Kabupaten Tulungagung).
Lantas, 2009–2014 & 2014–2019, dia mewakili Dapil Jawa Timur I (Surabaya dan Sidoarjo).
Tahun 2019–2024, Guruh kembali mengemban amanat rakyat dari Dapil Jawa Timur VI.
Di periode terakhirnya di parlemen, Guruh bertugas di Komisi X DPR RI, sebuah komisi yang membidangi Pendidikan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif.
Posisi ini seolah mengukuhkan sintesis perjuangan hidupnya: mengawal kebijakan negara di bidang budaya dan pendidikan melalui perspektif seorang pelaku seni sejati.
Sampai Jumpa Utang Rasa
Di usianya yang ke-73 tahun, Mas Guruh berpulang kepada-Nya. Mas Guruh tutup usia di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta pukul 04.16 WIB.
Selamat jalan untuk sang pejuang seni, sang abdi rakyat, kepergianmu merupakan duka bagi bangsa dan negara.
Beristirahatlah dengan tenang, namamu selalu terukir dalam sanubari rakyat. Kami akan terus mengenangmu dan melanjutkan perjuanganmu.
Tim Editor