Kabupaten Temanggung – Tanggal 23 Januari 2026 menjadi penanda usia yang ke-79 bagi Presiden Republik Indonesia ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Nama Megawati tak hanya melekat sebagai tokoh politik nasional, tetapi juga sebagai simbol keteguhan perempuan Indonesia dalam menghadapi sejarah yang tak selalu ramah.
Lahir sebagai putri Sang Proklamator, Bung Karno, sosok Megawati sejak awal hidupnya tak pernah benar-benar berada di ruang yang netral.
Darah Bung Karno yang mengalir di tubuhnya justru menjadi tantangan di masa Orde Baru. Ia dikucilkan secara politik, bahkan dari rakyat yang seharusnya menjadi tempat berpijak seorang pemimpin.
Namun sejarah mencatat, Megawati memilih jalan sunyi; bertahan dan menebar kebaikan. Perempuan yang kelak mencatatkan diri sebagai presiden perempuan pertama dalam sejarah Indonesia itu tidak lahir dari proses yang instan.
Di tengah tekanan politik Orde Baru, Megawati tetap hadir di akar rumput. Ia menolak menghilang. Ia memilih berdiri bersama rakyat kecil, sembari memegang teguh ajaran Bung Karno untuk memperkuat tenaga Kaum Marhaen (wong cilik).
Dalam dunia politik yang didominasi laki-laki, kehadiran Megawati bukan sekadar simbol emansipasi. Ia menjalankan emansipasi dalam makna yang paling substantif; berani memimpin tanpa kehilangan jati diri sebagai perempuan Indonesia.
Ia tidak meniru, tidak menanggalkan identitas, dan tidak tercerabut dari nilai kebangsaan. Megawati adalah perempuan yang sangat menjunjung tinggi kepribadian bangsa.
Saat menjabat Presiden RI pada 2001–2004, Megawati menghadapi masa transisi demokrasi. Stabilitas nasional, penegakan konstitusi, dan pemulihan kepercayaan publik menjadi tantangan besar.
Dalam situasi itu, Megawati dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga konstitusi, bahkan ketika keputusan-keputusannya tidak selalu populis.
Di luar istana, Megawati juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan pentingnya merawat bumi pertiwi. Isu lingkungan, kedaulatan pangan, dan kebudayaan nasional menjadi bagian dari narasi perjuangannya yang berkelanjutan.
Baginya, Indonesia bukan sekadar wilayah kekuasaan, melainkan rumah bersama yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
Perjalanan politik Megawati adalah cerita tentang ketahanan. Tentang perempuan yang pernah dipinggirkan, tetapi tidak patah. Tentang anak bangsa yang memikul nama besar dan tetap setia pada jalan ideologisnya.
Di usia yang terus bertambah, Megawati tidak hanya dikenang sebagai mantan presiden atau ketua umum partai besar. Ia adalah potret perempuan Indonesia yang membuktikan bahwa keteguhan, kesabaran, dan keberpihakan pada rakyat adalah bentuk kepemimpinan yang sesungguhnya.
Dan pada 23 Januari 2026 ini, sejarah kembali mengingatkan jalan panjang Megawati adalah bukti bahwa ketangguhan tidak selalu lahir dari sorak sorai, tetapi dari kesediaan untuk tetap berdiri, bahkan ketika dunia memilih menjauh.
Tim Editor















