Kota Semarang – Banjir di Sumatera muncul lagi, seperti tamu tak diundang yang selalu dipersilakan masuk oleh kebijakan publik yang lebih hobi merusak alam daripada mengelolanya. Pejabat pun pura-pura terkejut, padahal mereka sendiri yang pasang undangannya.
Hutan dibabat, sungai disempitkan, tata ruang diperlakukan seperti dekorasi kantor. Semua demi ‘pembangunan’, yaitu pembangunan yang menguntungkan bagi segelintir orang.
Saat hujan turun, air bingung harus mengalir ke mana. Maka, rumah warga pun berubah menjadi kolam renang gratis, ini adalah akumulasi dari keputusan politik yang serakah dan kebijakan publik yang salah kaprah.
Padahal, banjir ini bukan salah awan atau hujan, ini buah dari keserakahan politik yang dipupuk bertahun-tahun. Selama kebijakan tetap ditulis untuk melayani dompet, bukan rakyat, banjir akan terus jadi agenda rutin yang lebih konsisten daripada program pemerintah.
Tim Editor
















https://shorturl.fm/hJ14P
https://shorturl.fm/gFTRS